Langsung ke konten utama

Book Review: Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya


Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya
Rusdi Mathari
Penerbit Mojok
Cetakan ketiga, 2018
226 halaman


Judul yang sangat menohok. Haha. Ya, seringkali kita merasa pintar padahal bodoh saja tak punya. Karena sesungguhnya kita memang tidak punya apa-apa dan bukan siapa-siapa. Yang Ada hanya Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan berseri dengan Cak Dlahom sebagai tokoh utama yang menggelitik pemikiran pembacanya dalam memaknai bulan Ramadhan. Kisah pertama yang diceritakan benar-benar membuat saya terpikat untuk segera menuntaskannya. Cerita tersebut diawali dengan pertanyaan "Apa benar kamu merindukan Ramadhan?" (hlm. 4) Sebuah pertanyaan yang sederhana tapi begitu dalam maknanya.

Meskipun hanya cerita, namun penulis berhasil mengajak pembacanya untuk berintrospeksi perihal ibadah-ibadah yang 'katanya' ditujukan semata-mata untuk Allah. "Karena kamu beribadah, salat, puasa, berzakat, dan berhaji, lalu apa kamu merasa berhak atas surga?" (hlm. 115)

Betapa kita terlalu sibuk mengumpulkan pahala demi surga-Nya, tapi kita lupa memperhatikan kondisi orang-orang di sekitar kita. "Salatmu dan sebagainya adalah urusanmu dengan Allah, tapi Sarkum yang yatim dan ibunya yang kere mestinya adalah urusan kita semua." (hlm. 117)

Petikan ini menyadarkan pembaca bahwa ibadah, terutama di bulan Ramadhan, bukan hanya berupa hubungan manusia dengan Allah. Hubungan kita sebagai sesama manusia pun adalah bagian dari ibadah. Jangan sampai ketidakpedulian kita terhadap penderitaan orang lain malah menjerumuskan kita ke neraka dan menjauhkan kita dari ridho-Nya.

Dari sebuah batu pun Cak Dlahom mampu mengajak kita utk belajar. Konon, batu tak sanggup jadi manusia karena merasa kalah keras dibanding hati manusia. Kenapa hati manusia bisa jadi keras?
"Karena sering berdusta & tidak amanah. Pendendam & jarang meminta maaf. Dengki & kikir." (hlm. 285)

Ada banyak penanda yg saya sisipkan di buku ini karena isinya yg sarat ilmu. Buku ini sangat direkomendasikan utk mempersiapkan diri di bulan Ramadhan yg akan datang. Semoga kita diberi kesempatan utk bertemu dengannya dalam keadaan yg lebih baik.

Week 1, Juli 2018

#oneweekonebook

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silariang: Menantang Siri' demi Cinta

Silariang merupakan sebuah novel yang mengangkat fenomena tabu dalam adat pernikahan masyarakat Bugis-Makassar yang ditulis oleh Oka Aurora berdasarkan film karya produser Ichwan Persada yang berjudul sama.


Beberapa pertanyaan tentang cinta akan selamanya menjadi tanya. Mengapa ia datang di tempat dan waktu yang salah? Mengapa ia datang dan pergi sesukanya? Mengapa ia tak kunjung beranjak padahal sudah diinjak-injak?
Sebuah sajak di awal kisah memberikan gambaran mengenai apa yang terjadi pada Yusuf dan Zulaikha hingga memutuskan silariang. Perbedaan kasta tidak mengizinkan mereka untuk bersatu dalam ikatan yang sebenarnya Tuhan pun tentu akan meridhoi. Namun, tradisi yang sudah turun-temurun tidak merestui Yusuf yang hanya seorang jelata untuk menikahi Zulaikha, anak seorang bangsawan.
“Kita ini keturunan Raja. Mereka itu apa?” (hlm. 20)
Bagi para bangsawan, anak-cucunya hanya boleh menikah dengan sesama bangsawan. Tidak boleh ada yang menodai garis keturunan dengan menikahi rakyat jelat…

Book Review: Girls in the Dark

Judul: Girls in the Dark (Kyukyoku no Seisai)
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerbit: @penerbitharu
Tahun terbit: November 2016 (Cet. Ke-9)
Jumlah halaman: 289 hlm. Review: Kematian ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mengejutkan seluruh siswi SMA Putri Santa Maria. Untuk mengenangnya, setiap anggota Klub Sastra diminta menulis naskah mengenai kematian sang diva sekolah berdasarkan sudut pandang masing-masing.

Pembacaan naskah dilakukan di suatu malam dengan hanya mengandalkan sebuah lilin. Sumikawa Sayuri, sahabat Itsumi sejak kecil, memimpin pertemuan  tersebut sebagai Ketua Klub yang baru. Menariknya, tiap naskah yang ditulis oleh setiap anggota memberikan kesimpulan yang berbeda-beda. Nitani Mirei, siswi kelas 1-A menduga bahwa Koga Sonoko yang telah membunuh Itsumi. Sementara Kominami Akane, murid kelas 2-B, menuduh Mirei sebagai pembunuhnya. Diana Detcheva, murid internasional dari Bulgaria, menunjuk Takaoka Shiyo.  Koga Sonoko dari kelas 3-B mengira itu adalah perbuatan Diana. Seb…

Pada Suatu Malam bersama Sang Bayang

Malam ini langit tampak sunyi. Gemintang seolah enggan berbagi kilaunya. Namun, tiba-tiba wajahmu hadir mengusir sepi. Kita memandangi langit temaram bersama-sama.
Aku tak pernah memintamu kemari karena kusadari kita tak mungkin bertemu. Aku tahu, ragamu belum bisa menemani. Tetapi hatikutelah berhasil memanggilmu meski hanya dalam mimpi.
Aku yakin sepenuh hati, suatu saat nanti bukan hanya bayangmu di sisi. Akan tiba masa untuk kita bersama hingga habis usia.