Langsung ke konten utama

Langit Merah

Jeritan itu tidak lagi tersimpan di dalam hati. Kini ia menembus raga-raga manusia. Teriakan penindasan. Desa-desa sudah tidak aman lagi. Kaum minoritas dizalimi. Aroma petrichor bercampur bau darah segar yang mengalir dari tubuh-tubuh yang tidak berdaya, menguap ke langit senja yang memerah. Satu per satu dari mereka dibantai tanpa perlawanan yang berarti.


Setelah berbulan-bulan menyisiri desa, kini tinggal seorang yang bertahan. Ia tidak bisa mati. Ilmu kebal sudah dilahapnya. Tak ada sesiapapun yang mampu membunuhnya.

"Menyerahlah, Kanda. Saya sudah tidak sanggup menderita lebih lama lagi." Isak tangis terselip di sela-sela suara seorang wanita.

Kakak dari wanita itu, yang merupakan seorang petinggi dari kaum minoritas, terluka hatinya melihat penderitaan yang ditanggung oleh keluarganya. Jika bukan karena mereka, ia tak mungkin mau melepaskan ilmunya.

Sambil berjalan dengan hati yang terus-menerus menjerit melihat hancurnya kehidupan di sekitar, petinggi itu menyerahkan dirinya ke hadapan pemimpin pasukan pembantai, "Ambillah kepalaku. Tapi kumohon, bebaskan yang lainnya. Biarkan mereka hidup."

Parang diasah. Kaki dan tangan sang petinggi diikat lalu kepalanya dihadapkan ke bawah. Dengan disaksikan oleh pasukan penyerang dan sebagian masyarakat desa yang tersisa, seorang algojo mengayukan parangnya.

"Aargh!"

Teriakan histeris terdengar serentak dari bibir sang algojo, pemimpin kaum minoritas, dan masyarakat yang menyaksikan. Terdengar mirip namun maknanya berbeda-beda.

Bagi algojo, dengan amarah yang membara, "Matilah kau!"
Bagi masyarakat, sambil menutup mata, "Ini terlalu kejam!"
Bagi sang petinggi, dalam detik-detik terakhirnya, "Selamat tinggal!"

Sesaat kemudian, kepala dan badan petinggi itu pun terpisah. Rambutnya ditarik hingga kepalanya terangkat dan meneteskan darah. Kepala itu diarak keliling desa untuk menakut-nakuti warga yang tidak ikut menyaksikan peristiwa ditebasnya pemimpin mereka kala itu.
"Seandainya mereka datang dengan baik-baik, mungkin kami akan mendengarkannya. Dan mungkin saja peristiwa buruk seperti ini tidak perlu terjadi," sesal sang adik yang sedang mencatat sejarah kelam dalam ingatannya.[AyP]

(Terinspirasi dari kisah nyata)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silariang: Menantang Siri' demi Cinta

Silariang merupakan sebuah novel yang mengangkat fenomena tabu dalam adat pernikahan masyarakat Bugis-Makassar yang ditulis oleh Oka Aurora berdasarkan film karya produser Ichwan Persada yang berjudul sama.


Beberapa pertanyaan tentang cinta akan selamanya menjadi tanya. Mengapa ia datang di tempat dan waktu yang salah? Mengapa ia datang dan pergi sesukanya? Mengapa ia tak kunjung beranjak padahal sudah diinjak-injak?
Sebuah sajak di awal kisah memberikan gambaran mengenai apa yang terjadi pada Yusuf dan Zulaikha hingga memutuskan silariang. Perbedaan kasta tidak mengizinkan mereka untuk bersatu dalam ikatan yang sebenarnya Tuhan pun tentu akan meridhoi. Namun, tradisi yang sudah turun-temurun tidak merestui Yusuf yang hanya seorang jelata untuk menikahi Zulaikha, anak seorang bangsawan.
“Kita ini keturunan Raja. Mereka itu apa?” (hlm. 20)
Bagi para bangsawan, anak-cucunya hanya boleh menikah dengan sesama bangsawan. Tidak boleh ada yang menodai garis keturunan dengan menikahi rakyat jelat…

Book Review: Girls in the Dark

Judul: Girls in the Dark (Kyukyoku no Seisai)
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerbit: @penerbitharu
Tahun terbit: November 2016 (Cet. Ke-9)
Jumlah halaman: 289 hlm. Review: Kematian ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mengejutkan seluruh siswi SMA Putri Santa Maria. Untuk mengenangnya, setiap anggota Klub Sastra diminta menulis naskah mengenai kematian sang diva sekolah berdasarkan sudut pandang masing-masing.

Pembacaan naskah dilakukan di suatu malam dengan hanya mengandalkan sebuah lilin. Sumikawa Sayuri, sahabat Itsumi sejak kecil, memimpin pertemuan  tersebut sebagai Ketua Klub yang baru. Menariknya, tiap naskah yang ditulis oleh setiap anggota memberikan kesimpulan yang berbeda-beda. Nitani Mirei, siswi kelas 1-A menduga bahwa Koga Sonoko yang telah membunuh Itsumi. Sementara Kominami Akane, murid kelas 2-B, menuduh Mirei sebagai pembunuhnya. Diana Detcheva, murid internasional dari Bulgaria, menunjuk Takaoka Shiyo.  Koga Sonoko dari kelas 3-B mengira itu adalah perbuatan Diana. Seb…

Book Review: Sheila - Luka Hati Seorang Gadis Kecil (One Child)

Judul: Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil (Diterjemahkan dari One Child)
Penulis: Torey Hayden
Halaman: 476 hlm
Penerbit: Qanita
Tahun terbit: 2004 (cetakan ke-7)